Pengaruh Inflasi
terhadap Pengangguran
Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan
terus-menerus (kontinuitas) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat
disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang
meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan
spekulasi, sampai akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan
kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara
kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya
tingkat harga. Jadi, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan
inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap
terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling
pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan
peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab
meningkatnya harga.
Pengangguran adalah
istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja,
bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang
berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan
karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan
jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali
menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran,
produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat
menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Tabel 2.2.1
Data pengangguran di Indonesia periode 1995 – 2010
|
No
|
Tahun
|
Tingkat
Pengangguran
|
|
1
|
1995
|
7.2 %
|
|
2
|
1996
|
4.9 %
|
|
3
|
1997
|
4.7 %
|
|
4
|
1998
|
5.5 %
|
|
5
|
1999
|
6.4 %
|
|
6
|
2000
|
6.1 %
|
|
7
|
2001
|
8.0 %
|
|
8
|
2002
|
9.1 %
|
|
9
|
2003
|
9.6 %
|
|
10
|
2004
|
9.9 %
|
|
11
|
2005
|
10.3 %
|
|
12
|
2006
|
10.3 %
|
|
13
|
2007
|
9.1 %
|
|
14
|
2008
|
8.39 %
|
|
15
|
2009
|
8.14 %
|
|
16
|
2010
|
7.14 %
|
Sumber :
Badnan Pusat Statistik, Indonesia
Kurva
Philips
Pada saat
terjadinya depresi ekonomi Amerika Serikat tahun 1929, terjadi inflasi yang
tinggi dan diikuti dengan pengangguran yang tinggi pula. Didasarkan pada fakta
itulah A.W. Phillips mengamati hubungan antara tingkat inflasi dan tingkat
pengangguran secara berkelanjutan. Dari hasil pengamatannya, ternyata ada
hubungan yang erat antara inflasi dengan tingkat pengangguran, dalam arti jika
inflasi tinggi, maka pengangguran akan rendah. Hasil pengamatan Phillips ini
dikenal dengan kurva Phillip.
Gambar
2.3.1 Kurva Phllips
Kurva
Phillips adalah kurva yang menunjukkan adanya korelasi antara tingkat
pengangguran dan tingkat inflasi. Menrut A.W Phillips, korelasi antara tingkat
inflasi dan pengangguran adalah negative. Suatu negara dihadapkan pada suatu
pilihan ( Trade Off atau imbang korban atau harga yang harus dibayar ) yaitu
bila negara tersebut menghendaki inflasi yang rendah maka konsekuensinya yang
didapat yakni tingkat pengangguran yang semakin meningkat, dan bila negara tersebut
menghendaki pengangguran yang rendah sebagai konsekuensinya inflasi yang
dihadapi haruslah tinggi. Dan menurut Phillips, tidak bisa suatu negara
mengehendaki keadaan dimana inflasi rendah dan tingkat pengangguran yang juga
rendah.
A.W Philips
mampu mengintepretasikan kurva Phillips sebagai representasi dari keterkaitan
antara inflasi dan pengangguran dalam penelitiannya di sebuah negara. Perilaku
yang ditampakkan dari dua komponen ini di asumsikan oleh Phillips bahwa suatu
inflasi ada ataupun meningkat karena adanya peningkatan Agregat Demand .
Namun, hal yang tercermin dalam kurva Phillips ini tidak cukup mampu
menggambarkan perilaku maupun pola dari keterikatan antara inflasi dan
pengangguran di negara – negara berkembang pada umumnya dan di indonesia pada
khususnya. Hal ini nampak pada pola yang tidak dapat terbaca.
Gambar 2.4.1
Hubungan anatarinflasi dan pengangguran di Indonesia
Pengaruh Inflasi
terhadap Pengangguran di Indonesia periode 1995-2010
A.W. Phillips
menggambarkan bagaimana sebaran hubungan antara inflasi dengan tingkat
pengangguran didasarkan pada asumsi bahwa inflasi merupakan cerminan dari
adanya kenaikan permintaan agregat. Dengan naiknya permintaan agre-gat, maka
sesuai dengan teori permintaan, jika permintaan naik maka harga akan naik.
Dengan tingginya harga (inflasi) maka untuk memenuhi permintaan tersebut
produsen meningkatkan kapasitas produksinya dengan menambah tenaga kerja
(tenaga kerja merupakan satu-satunya input yang dapat meningkatkan output).
Akibat dari peningkatan permintaan tenaga kerja maka dengan naiknya harga-harga
(inflasi) maka, pengangguran berkurang.
Menggunakan
pendekatan A.W.Phillips dengan menghubungkan antara pengangguran dengan tingkat
inflasi untuk kasus Indonesia kurang tepat. Hal ini didasarkan pada hasil
analisis tingkat pengangguran dan inflasi di Indonesia dari tahun 1995 hingga
2010, ternyata secara statistik maupun grafis tidak ada pengaruh yang
signifikan antara inflasi dengan tingkat pengangguran (lihat hasil analisis
statistik di bawah ini).
Berbeda dengan di
Indonesia, adanya kenaikan harga-harga atau inflasi pada umumnya disebabkan
karena adanya kenaikan biaya produksi misalnya naiknya Bahan Bakar Minyak
(BBM), bukan karena kenaikan permintaan. Dengan alasan inilah, maka tidaklah
tepat bila perubahan tingkat pengangguran di Indonesia dihubungkan dengan
inflasi. Karena itu, perubahan tingkat pengangguran lebih tepat bila dikaitkan
dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Sebab, pertumbuhan ekonomi merupakan akibat
dari adanya pe-ningkatan kapasitas produksi yang merupakan turunan dari
peningkatan investasi.
Kesimpulan
Menurut pembahasan
dalam karya ilmiah diatas, setelah penulis membandingkan mengenai pola hubungan
antara inflasi dan pengangguran di Indonesia dengan teori Phillips yang
dikemukakan oleh A.W Phillips , hasilnya tidak dapat dikaitkan ataupun
dihubungkan dengan teori tersebut. Artinya, teori Phillips tidak berlaku di
negara-negara berkembang terutama untuk Indonesia. Hal ini disebabkan karena
Phillips menggunakan asumsi untuk teorinya bahwa inflasi sangat dipengaruhi
oleh agregat demand atau permintaan agregat, padahal di negara – negara
berkembang, utamanya Indonesia inflasi lebih dipengaruhi oleh niaya produksi.
Jika menurut Phillips saat teradi inflasi, perusahaan akan berupaya
meningkatkan outputnya demi memenuhi kebutuhan pasar, asumsi agregat demand, sehingga
perusahaan akan berupaya meningkatkan sumber daya atau tenaga kerja demi
memenuhi kebutuhan masyarakat, akibatnya pengangguran kian menurun, karena
dianggap dalam jangka pendek nilai nominal yang dibayarkan perusahaaan kepada
tenaga kerja meskipun tetap namun nilai riil upah yang dibayarfkan
tersebut menurun.
Akan tetapi berbeda
dengan Indonesia, seperti yang disebutkan di atas, inflasi terjadi karena
menigkatnya biaya produksi, sehingga secara tidak langsung harga bahan untuk
memenuhi output atau permintaan pasar juga meningkat, sehingga perusahaan akan
berupaya menekan biaya produksi guna efisiensi perusahaan, akibatnya demi
menjaga efisiensi tersebut salah satu langkah yang bisa ditempuh oleh
perusahaan adalah mengurangi tenaga kerja dan mengganti dengan mesin, sehingga
biaya yang dianggarkapun juga berkurang, dalam artian perusahaan harus
mengurangi tenaga keranya dengan cara mem PHK. Namun hal ini tidak dapat
diartikan, bahwa di Indonesia hubungan antara inflasi dan pengangguran adalah
positip, sebab dalam kenyataannya di Indonesia tidak ada hubungan yang pasti
antara inflasi dan pengangguran.
Sumber:
http//amriamir.files.wordpress.com/200809inflasi-dan-pengangguran-di-indonesia-1.pdf/, http://article.wn.com/view/2012/05/07/BPS_Jumlah_Pengangguran_Turun_90000_Orang/, http://putrijulaiha.wordpress.com/2011/03/22/hubungan-pengangguran-dan-inflasi-di-indonesia/, Lipsey,
Richard. 1995. Pengantar Ilmu Ekonomi. Jakarta : Cipta Pustaka.

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar