Minggu, 03 April 2016

Kalijodo seperti 'kota hantu'

Seperti kota hantu, begitulah suasana di kawasan bekas lokalisasi Kalijodo di Jakarta utara, Minggu (28/02), setelah sebagian besar penghuninya meninggalkannya.Kawasan seluas sekitar satu setengah hektar itu tinggal bangunan kosong dan sebagian bahkan hanya tersisa reruntuhan.Sampai hari Minggu sore, sebagian penghuninya masih berusaha membawa barang-barang berharga yang tersisa dari bangunan bekas rumahnya."Kita sedang nungguin lemari saya. Anak saya mau bawa mobil pinjaman untuk membawanya," kata Kamirin, yang sehari-hari menjadi tukang ojek di Kalijodo.



Dia ditemani istrinya di depan bekas rumahnya. Saat saya menemuinya pada Minggu sore, suasana di lorong tempat rumahnya berdiri sudah terlihat gelap karena PLN telah mencabut aliran listrik di Kalijodo.Penghuni lainnya terlihat menyelamatkan seperti pintu, jendela, atau pagar besi, serta papan kayu yang menjadi dinding rumahnya. "Lumayan bisa dijadiin duit," ujar seorang warga.



  

Rencananya, hari Senin (29/02) pagi, semua bangunan di kawasan yang terletak di perbatasan Jakarta utara dan barat ini akan mulai dibongkar secara paksa.Hal ini dilakukan sesuai tenggat waktu pemerintah DKI Jakarta yang berakhir hari Minggu (28/02).Walaupun sebagian besar bangunan telah dibongkar sendiri dan kemudian ditinggalkan pemiliknya, sekitar lima ribu aparat polisi, TNI, serta satpol PP tetap akan mengamankan proses pembongkaran.



"Besok (Senin, 29 Februari), keberadaan Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya adalah membackup pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam melakukan operasi penertiban ini," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes M Iqbal, saat ditemui wartawan di Kalijodo, Minggu sore.Sejak sepekan lalu, kehadiran aparat kepolisian sudah terlihat di kawasan tersebut, termasuk melakukan penggeledahan di sejumlah tempat hiburan dan menemukan senjata tajam.Sebelumnya Polda Metro Jaya telah menetapkan Abdul Aziz atau biasa disapaDaeng Aziz -yang disebut sebagai 'pemimpin' kawasan Kalijodo- sebagai tersangka.Walaupun warga Kalijodo akhirnya harus pergi, sebagian di antara mereka sepertinya belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan terusir dari rumahnya.Kamirin, tukang ojek yang saya temui, misalnya, mengatakan pemerintah DKI Jakarta bersikap 'tidak adil'."Kita enggak dikasih jangka waktu. Dua atau tiga bulan, kek. Jadi kita ada nafas untuk mencari lokasi pindahan."Namun demikian, imbuhnya, "Kita rakyat kecil, kita enggak bisa ngelawan apa-apa. Pasrah."Mengaku sudah tinggal puluhan tahun di Kalijodo, Kamirin, istri dan anak-anaknya tinggal di lorong berukuran satu setengah meter. Lokasinya hampir berderetan dengan tempat hiburan.Di jalan besar, terlihat seorang perempuan berusia 55 tahun, bernama Juwita, yang terus memandangi bekas toko miliknya yang bercat hijau.Dia menolak pindah ke rumah susun yang ditawarkan pemerintah DKI Jakarta. Juwita memilih mengontrak sebuah rumah petak tidak jauh dari Kalijodo. "Ngapainjauh-jauh (pindah ke rumah susun). Lagipula saya hidup sendiri.""Ahok memang bikin orang sengsara," katanya sengit. Ahok yang dimaksud adalah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama. "Main gusur-gusur aja."Mengharap pemberitahuan awal


REFRENSI:
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160228_indonesia_kalijodo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar